Jumat, 28 April 2023

Membuka Kunci Potensi Diri: Strategi untuk Mengembangkan Growth Mindset

Media Belajar Bersama

Syaiful Rahman, S.Pd., M.Pd.

Sumber Gambar: FreeImages


Memahami Konsep Growth Mindset

Konsep growth mindset dikembangkan oleh psikolog Carol Dweck. Merupakan keyakinan bahwa kemampuan dan bakat seseorang tidak tetap, tetapi dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran. Orang dengan mindset berkembang percaya bahwa kecerdasan bukanlah sifat yang tetap, tetapi sesuatu yang dapat dikembangkan seiring waktu. Mereka melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang, dan mereka menganggap kegagalan sebagai langkah penting menuju kesuksesan.

Di sisi lain, orang-orang dengan fixed mindset percaya bahwa kemampuan dan bakat mereka sudah mati. Mereka melihat kegagalan sebagai cerminan dari keterbatasan bawaan mereka, dan mereka menghindari tantangan yang mungkin mengungkapkan kelemahan mereka. Mereka percaya bahwa bakat saja sudah cukup untuk mencapai kesuksesan, dan mereka sering menyerah saat menghadapi rintangan.

Manfaat Memiliki Growth Mindset

Mengembangkan growth mindset memiliki banyak manfaat. Orang dengan pola pikir berkembang lebih cenderung menghadapi tantangan baru, bertahan melalui masa-masa sulit, dan mencapai tujuan mereka. Mereka lebih tangguh dalam menghadapi kemunduran, dan mereka cenderung tidak menyerah ketika keadaan menjadi sulit. Mereka juga lebih terbuka terhadap umpan balik dan kritik, karena mereka melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Selain itu, orang dengan mindset berkembang lebih cenderung mencari peluang baru untuk tumbuh dan berkembang. Mereka tidak takut untuk keluar dari zona nyaman mereka dan mencoba hal-hal baru. Mereka juga lebih mungkin untuk berkolaborasi dengan orang lain dan belajar dari pengalaman mereka.

Perbedaan antara Growth Mindset dan Fixed Mindset

Perbedaan utama antara mindset berkembang (Growth Mindset) dan mindset tetap (Fixed Mindset) terletak pada cara orang memandang kemampuan dan bakat mereka. Orang dengan pola pikir berkembang percaya bahwa kemampuan mereka dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran, sementara orang dengan pola pikir tetap percaya bahwa kemampuan mereka sudah pasti.
Orang dengan mindset berkembang melihat kegagalan sebagai peluang untuk tumbuh dan belajar. Mereka merangkul tantangan dan tidak takut mengambil risiko. Mereka percaya bahwa kesuksesan adalah hasil dari kerja keras dan ketekunan.
Sebaliknya, orang dengan pola pikir tetap melihat kegagalan sebagai cerminan dari keterbatasan bawaan mereka. Mereka menghindari tantangan dan takut mengambil risiko. Mereka percaya bahwa kesuksesan adalah hasil dari bakat saja, dan mereka sering menyerah saat menghadapi rintangan.

Peran Mindset dalam Meraih Kesuksesan

Pola pikir kita memainkan peran penting dalam kemampuan untuk mencapai kesuksesan. Keyakinan kita tentang kemampuan dan bakat diri dapat membantu atau menghambat kemajuan kita. Jika kita memiliki pola pikir berkembang, kita lebih mungkin untuk menghadapi tantangan baru dan bertahan melewati masa-masa sulit. Kita juga lebih cenderung mencari peluang untuk tumbuh dan berkembang.
Di sisi lain, jika kita memiliki mindset tetap, maka cenderung menghindari tantangan dan menyerah ketika keadaan menjadi sulit.
Mengembangkan mindset berkembang dapat membantu mencapai kesuksesan di semua bidang kehidupan. Apakah kita sedang mengejar karir baru, memulai bisnis, atau bekerja menuju tujuan pribadi, memiliki mindset berkembang dapat memberi kepercayaan diri dan motivasi yang kita butuhkan untuk sukses.

Strategi untuk Mengembangkan Growth Mindset

Mengembangkan mindset berkembang membutuhkan waktu dan usaha, tetapi ini merupakan investasi berharga dalam pengembangan pribadi dan profesional diri. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat digunakan untuk menumbuhkan mindset berkembang:
1. Rangkullah Tantangan
Tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Ketika kita menghadapi tantangan, jangan menghindarinya. Alih-alih, anggap itu sebagai kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru dan mengembangkan keterampilan diri.
2. Belajar dari Kegagalan
Kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar. Ketika kita mengalami kegagalan, jangan menyerah. Gunakan itu sebagai kesempatan untuk belajar dari kesalahan diri dan melakukan perbaikan.
3. Menumbuhkan Kecintaan Belajar
Belajar adalah proses seumur hidup. Tumbuhkan kecintaan belajar dengan membaca, mengikuti kursus, dan mencari pengalaman baru. Semakin banyak kita belajar, semakin kita akan tumbuh berkembang.
4. Percaya pada diri sendiri
Percayalah bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan dan bakat diri melalui kerja keras dan dedikasi. Percayalah pada diri sendiri dan kemampuan untuk mencapai tujuan.
5. Kelilingi Diri Kita dengan Orang-Orang Positif
Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang mendukung dan menyemangati . Orang-orang yang positif dapat membantu kita tetap termotivasi dan fokus pada tujuan.
6. Latih Refleksi Diri
Luangkan waktu untuk merenungkan pengalaman diri dan belajar darinya. Apa yang sudah kita lakukan dengan baik? Apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik? Gunakan informasi ini untuk melakukan perbaikan dan pertumbuhan.

Mengatasi Hambatan Umum untuk Growth Mindset

Mengembangkan growth mindset bisa menjadi tantangan, terutama jika telah terjebak dalam mindset tetap (fixed mindset)untuk waktu yang lama. Berikut adalah beberapa hambatan umum untuk mindset berkembang (growth mindset) dan cara mengatasinya:
1. Takut Gagal
Banyak orang takut gagal karena mereka melihatnya sebagai cerminan dari keterbatasan bawaan mereka. Untuk mengatasi rasa takut ini, rangkul kegagalan sebagai kesempatan untuk tumbuh dan belajar. Ingatlah bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses pembelajaran, dan hanya dengan melakukan kesalahan kita dapat belajar dan tumbuh.
2. Self-Talk Negatif
Pembicaraan diri sendiri yang negatif dapat menjadi hambatan utama untuk mengembangkan mindset berkembang (growth mindset). Jika mendapati diri kita terlibat dalam self-talk negatif, tantang pikiran itu dan gantikan dengan afirmasi positif. Fokus pada kekuatan dan pencapaian kita, dan percaya pada kemampuan diri untuk mencapai tujuan.
3. Kurang motivasi
Kurangnya motivasi bisa menjadi tanda bahwa kita terjebak dalam mindset tetap (fixed mindset). Untuk mengatasi hambatan ini, ingatkan diri tentang tujuan dan manfaat mencapainya. Pecah tujuan kita menjadi langkah-langkah yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, dan fokuslah untuk mengambil tindakan terhadapnya setiap hari.

Pentingnya Ketekunan dalam Membangun Growth Mindset

Ketekunan adalah komponen kunci untuk mengembangkan mindset berkembang (growth mindset). Ketika kita menghadapi tantangan dan kemunduran, mungkin tergoda untuk menyerah. Namun, melalui ketekunan kita membangun ketahanan dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang kita butuhkan untuk berhasil. Ketekunan membutuhkan kombinasi ketabahan, tekad, dan kesabaran. Itu berarti tetap berkomitmen pada tujuan , bahkan ketika jalan di depan sulit. Itu berarti mendorong melalui rintangan dan kemunduran, dan terus bekerja menuju impian kita.

Alat dan Sumber Daya untuk Mengembangkan Growth Mindset

Ada banyak alat dan sumber daya yang tersedia untuk membantu kita mengembangkan mindset berkembang (growth mindset). Berikut adalah beberapa yang paling berguna:
1. Buku
Ada banyak buku bagus tentang topik mengembangkan mindset berkembang. Beberapa yang paling populer termasuk "Mindset" oleh Carol Dweck, "Grit" oleh Angela Duckworth, dan "The Power of Positive Thinking" oleh Norman Vincent Peale.
2. Kursus
Ada banyak kursus yang tersedia secara online dan tatap muka yang dapat membantu kita mengembangkan mindset berkembang (growth mindset). Kursus-kursus ini mencakup topik-topik seperti penetapan tujuan, motivasi, dan ketahanan.
3. Melatih
Bekerja dengan pelatih atau mentor bisa menjadi cara yang bagus untuk mengembangkan mindset berkembang. Seorang pelatih dapat membantu kita mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri, menetapkan tujuan, dan mengembangkan strategi untuk mencapainya.

Menerapkan Growth Mindset dalam Kehidupan Pribadi dan Profesional

Mengembangkan mindset berkembang (growth mindset) dapat berdampak positif pada semua bidang kehidupan . Apakah kita sedang mengejar karir baru, memulai bisnis, atau bekerja menuju tujuan pribadi, memiliki mindset berkembang dapat memberi kepercayaan diri dan motivasi yang kita butuhkan untuk sukses. Terapkan strategi yang telah kita bahas dalam artikel ini untuk mengembangkan mindset berkembang dalam kehidupan pribadi dan profesional Anda. Rangkullah tantangan, belajar dari kegagalan, tumbuhkan kecintaan belajar, percaya pada diri sendiri, kelilingi diri kita dengan orang-orang positif, dan praktikkan refleksi diri. Dengan ketekunan dan dedikasi, kita dapat membuka potensi diri dan mencapai kesuksesan melebihi impian.

Kesimpulan

Kesimpulannya, mengembangkan mindset berkembang adalah alat yang ampuh untuk membuka potensi diri dan mencapai kesuksesan di semua bidang kehidupan . Ini adalah keyakinan bahwa diri kita dapat mengembangkan kemampuan dan bakat melalui kerja keras, dedikasi, dan ketekunan. Dengan menerima tantangan, belajar dari kegagalan, dan memupuk kecintaan untuk belajar, kita dapat mengembangkan ketahanan dan keterampilan yang kita perlukan untuk sukses. Ingatlah untuk percaya pada diri sendiri, kelilingi diri dengan orang-orang yang positif, dan lakukan refleksi diri. Dengan ketekunan dan dedikasi, kita dapat mencapai tujuan dan membuka potensi penuh diri kita.

"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".

Semoga kita semua selalu dalam pertolongan dan ridho-Nya. Amin


Senin, 03 April 2023

Guru dan Motivasi

GURU DAN MOTIVASI (Tulisan ini sebagai renungan diri Penulis) Syaiful Rahman, S.Pd., M.Pd SMAN Plus Sukowono


Siapakah seorang guru itu ?

Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan tokoh pendidikan Indonesia yang sangat dihormati, memiliki pandangan yang sangat penting tentang peran guru. Dalam bukunya yang terkenal, "Pendidikan Kewarganegaraan," Ki Hajar Dewantara menggambarkan guru sebagai "pembawa obor" yang membimbing siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses di dunia. Menurut Ki Hajar Dewantara, guru harus memiliki sifat-sifat seperti kebijaksanaan, kesabaran, empati, dan pemahaman yang luas tentang dunia. Beliau juga menekankan pentingnya guru dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa, selain hanya memberikan pengajaran dan pengetahuan.


Peran Guru sesuai Perkembangan Jaman

Peran guru di masa kini dan masa lampau dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi sosial dan budaya pada masa itu. Namun, secara umum, peran guru adalah sama pentingnya dalam memberikan pendidikan dan membimbing siswa untuk mencapai tujuan akademik dan kepribadian.


Masa Lampau:

Di masa lampau, pendidikan seringkali bersifat formal dan terpusat pada menghafal atau mengejar nilai akademik yang tinggi. Guru berperan sebagai pemberi informasi atau pengajar yang memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada siswa. Guru juga memiliki peran dalam membentuk moral dan karakter siswa, namun tidak selalu menjadi fokus utama dalam pembelajaran.


Masa Kini:

Di masa kini, pendidikan cenderung lebih berfokus pada pengembangan keterampilan dan kreativitas siswa. Guru diharapkan untuk lebih berperan sebagai fasilitator atau pembimbing yang membantu siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan mendukung pengembangan karakter serta kemampuan siswa secara holistik.


Namun, meskipun peran guru di masa kini berbeda dengan peran guru di masa lampau, tujuan utamanya tetap sama: memberikan pendidikan dan membimbing siswa untuk mencapai kesuksesan akademik dan kepribadian.


Jiwa Seorang Guru

Jiwa seorang guru dapat diartikan sebagai karakter atau sifat batin yang dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Jiwa seorang guru meliputi kecintaannya terhadap profesi mengajar, kesediaannya untuk membantu dan melayani siswa, kemampuannya untuk memberikan inspirasi dan motivasi kepada siswa, serta keteladanan dan keikhlasan dalam mengajar.


Seorang guru yang memiliki jiwa yang baik biasanya memiliki sifat-sifat seperti kepedulian terhadap siswa, empati, sabar, dan telaten. Selain itu, seorang guru dengan jiwa yang kuat juga mampu menunjukkan keteladanan dalam mempraktikkan nilai-nilai yang diajarkan, serta mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada siswa untuk meraih prestasi terbaik mereka.


Jiwa seorang guru yang kuat dapat berdampak positif pada kesuksesan siswa dalam pendidikan. Seorang guru yang mampu membawa jiwa dan semangat dalam mengajar dapat memotivasi dan menginspirasi siswa untuk belajar dengan giat, meraih hasil yang baik, serta mengembangkan karakter dan kepribadian yang positif. Oleh karena itu, penting bagi seorang guru untuk memiliki jiwa yang kuat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.


Motivasi guru sebagai seorang Pendidik 

Sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki motivasi yang kuat dan berkelanjutan agar dapat membantu siswa mencapai tujuan akademik dan kepribadian. Beberapa motivasi yang harus dimiliki seorang guru antara lain:


Kecintaan terhadap profesi mengajar: Seorang guru harus memiliki cinta dan dedikasi terhadap profesi mengajar. Kecintaan terhadap profesi ini akan memotivasi seorang guru untuk belajar lebih banyak dan terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya dalam mengajar.


Kepedulian terhadap siswa: Seorang guru yang peduli akan merasa tergerak untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan mereka. Kepedulian terhadap siswa juga memotivasi seorang guru untuk memahami kebutuhan dan keunikan setiap siswa, serta memberikan pengajaran yang sesuai dan efektif.


Rasa tanggung jawab: Seorang guru harus merasa bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang baik kepada siswa. Rasa tanggung jawab ini akan memotivasi seorang guru untuk mempersiapkan pengajaran yang terstruktur dan efektif, serta memantau kemajuan siswa secara teratur.


Kemampuan menginspirasi dan memotivasi: Seorang guru harus mampu menginspirasi dan memotivasi siswa agar mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka. Kemampuan ini memerlukan kreativitas, ketelitian dalam memilih metode pengajaran, dan kesediaan untuk memberikan dukungan dan dorongan kepada siswa.


Rasa ingin tahu dan semangat belajar: Seorang guru yang memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar akan memotivasi siswa untuk belajar dengan giat dan meraih hasil yang baik. Seorang guru harus terus memperbarui pengetahuannya dan memperdalam keterampilannya dalam mengajar untuk memberikan pengajaran yang lebih baik dan efektif.


Semoga kita sebagai seorang guru terus memiliki motivasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang memiliki rasa ikhlas mendampingi dan "among" siswa kita. Amin


#Catatan_refleksidiri


Rabu, 16 Februari 2022

Paradigma Pengambilan Keputusan

Syaiful Rahman, S.Pd., M.Pd
CGP Angkatan 3 _Jember 2
Dalam setiap menghadapi dilema etika kita akan dihadapkan dengan keputusan yang harus diambil dengan tepat dan bertanggung jawab. Hal ini tidak terlepas dari pertimbangan nilai-nilai kebajikan universal dan nilai-nilai diri yang menjadi prinsip dalam kehidupan.Mari kita mengenal pola, model atau paradigma apakah yang terjadi pada dilema etika yang kita hadapi .

Pertama, Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Sebuah dilema etika dikategorikan sebagai paradigma Individu lawan masyarakat (individual vs community) jika dalam dilema etika tersebut ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok/komunitas yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar.
Semisal pada acara eduwisata pemberangkatan dijadwalkan pukul 06.00 wib dari sekolah, Pak Kirman adalah guru biologi yang akan ikut mendampingi eduwisata tersebut. Saat akan berangkat ke sekolah, Pak Kirman dimintai bantuan oleh Pak Ilham  (tetangganya) untuk mengantar ke Rumah Sakit karena istrinya akan melahirkan. Pak Kirman mengalami dilema etika.
Paradigma pada kasus ini dikategorikan sebagai paradigma individual vs community karena yang terjadi adalah pertentangan antara kepentingan Pak Kirman sebagai individu dan kepentingan banyak orang dalam acara eduwisata tersebut.
Kedua, Rasa keadilan lawan rasa kasihan ( justice vs mercy )
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan).
Ketiga, Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Paradigma ini terjadi jika dilema etika merupakan pertentangan antara nilai-nilai kebenaran dan kesetiaan. Dilain sisi kita memegang teguh nilai-nilai kebenaran yang disampaikan dan dipertanggungjawabkan ,disisi lain kita dihadapkan pada situasi untuk memilih karena nilai kesetian.
Semisal , Pak Budi adalah rekan kerja Pak Anton di SMA Mojopahit. Suatu ketika Pak Anton belum dapat membayar angsuran koperasi sekolah karena masih dipentingkan untuk membayar UKT anaknya yang sedang kuliah. Kemudian Kepala Sekolah menanyakan data kepada Pak Budi siapa saja yang sudah membayar angsuran koperasi sekolah. Dilema yang dihadapi Pak Budi merupakan paradigma Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty).
Keempat, Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma ini terjadi apabila situasi yang dihadapi karena pertimbangan kebaikan saat ini atau masa yang akan datang. Memilih antara yang sesuatu tampak terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

Sabtu, 12 Februari 2022

Dilema Etika dan Bujukan Moral

Syaiful Rahman, S.Pd., M.Pd
CGP Angkatan 3 _Jember 2
Apa itu dilema etika ( ethical dilemma) dan bujukan moral ( moral temptation ) ?


Dalam setiap interaksi sosial di keluarga, masyarakat, komunitas sosial dan dimanapun kita berada tak terkecuali di sekolah mengalami “kesulitan” dalam mengambil sebuah keputusan karena sebuah pertimbangan nilai-nilai kebajikan yang berlaku universal. Sering dalam kenyataannya kita beraktivitas harus memilih diantara dua pilihan atau lebih sebagai bentuk keputusan yang diambil.
Dalam setiap permasalahan yang kita hadapi penting diambil keputusan yang tepat dan bertanggungjawab dengan tidak mengenyampingkan nilai-nilai kebajikan universal dan tidak pula bertentangan dengan peraturan, regulasi yang berlaku.
Mari bersama kita pahami “Apa itu Dilema Etika dan Bujukan Moral ?”
Situasi yang terjadi ketika kita harus memilih diantara dua pilihan yang secara moral dinilai benar tetapi bertentangan dapat kita kategorikan dilema etika. Sedangkan jika dalam situasi tersebut kita harus memilih antara benar atau salah maka hal tersebut dikategorikan sebagai bujukan moral.
Sebagai contoh :
Kasus 1 : Pak Say seorang guru di SMA Penggerak, suatu ketika Pak Say diundang tetangganya dalam acara pernikahan. Acara tersebut dilaksanakan pada saat jam mengajar. Keputusan apa yang harus Pak Say ambil ?
Kasus 2 : Ibu Dewi adalah pembina ekstrakurikuler Paskibra di SMA Penggerak. Pada saat tiba pengajuan seleksi Paskab ( Paskibra Kabupaten ), Toni sebagai senior Paskibra sekolah menghampiri Ibu Dewi dan menyampaikan bahwa jika Ibu Dewi mengikut sertakan adiknya dalam seleksi Paskab tersebut, orang tua Toni akan memberi hadiah sepasang sepatu kepada Ibu Dewi. Situasi apa yang terjadi terhadap Ibu Dewi ?
Dari dua kasus diatas, kasus 1 merupakan dilema etika karena situasi yang dihadapi Pak Syaiful adalah situasi yang sama-sama benar , sedangkan pada kasus 2 merupakan bujukan moral karena situasi yang dihadapi Ibu Dewi harus memilih antara benar atau salah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

#Belajar_Berbagi_Beramal

#BangkitGuruku_MajuNegeriku

Jumat, 04 Februari 2022

EKSPLORASI KONSEP COACHING

EKSPLORASI KONSEP COACHING

Mengutip penjelasan Paradigma Pendampingan Coaching Sistem Among - ARTI disebutkan bahwa Among (Tut Wuri Handayani) menjadi salah satu kekuatan dalam pendekatan  pendampingan (coaching) bagi guru. Tut Wuri (mengikuti, mendampingi) mempunyai  makna mengikuti/mendampingi perkembangan murid dengan penuh (holistik)  berdasarkan cinta kasih tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa. Handayani (mempengaruhi) mempunyai makna merangsang, memupuk, membimbing  dan memberi teladan agar murid mengembangkan pribadinya melalui disiplin pribadi.  Among merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti mengasuh, mengikuti, mendampingi. Guru (Pamong/Pedagog) adalah seorang memiliki cinta kasih dalam membimbing murid  sesuai dengan kekuatan kodratnya. Guru sejatinya bebas dari segala ikatan/belenggu  untuk menguasai dan memaksa murid. Sistem Among dapat disebut juga sebagai upaya  memanusiakan sang anak sebagai seorang manusia (humanisasi).

Pendampingan yang dihayati dan dimaknai secara utuh  oleh seorang guru, sejatinya menciptakan ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) dalam proses menuntun kekuatan kodrat anak (murid sebagai coachee). ARTI sebagai  prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid. Proses  menciptakan ARTI dapat dilatih melalui pendekatan coaching sistem among dengan menggunakan metode TIRTA.

Dari uraian singkat diatas sedikit mengeksplorasi pemahaman CGP terkait dengan *Coaching* :

  1. Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi permasalahan) yang dihadapi coachee?

Coach Sebagai guru( pamong) dapat mengeksplorasi permasalahan yang dihadapi coachee dengan langkah TIRTA yang diimplementasikan dengan GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. 4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Model tersebut tentunya dapat didukung dengan komunikasi asertif dengan Beberapa tips singkat yang dapat seorang coach lakukan dengan cara 

  1. Menyamakan kata kunci

Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

  1. Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya.

  1. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.


  1. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi (permasalahan) yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)

  • Menghormati dan menghargai ungkapan permasalahan yg disampaikan oleh coachee

  • Memberikan apresiasi kepada murid sebagai mitra belajar dengan bersikap terbuka

  • Komunikasi interaktif dua arah

  • Menjadi pendengar yang baik dan simpati

  • Eksplorasi untuk solusi dengan bertanya

  • Memberikan Refleksi dan umpan balik

  1. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA?

Dengan ragam permasalahan yang dihadapi oleh murid dan guru,  Praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah. 

Tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA adalah Eksplorasi diri murid melalui identifikasi , bisa kemungkinan murid kurang terbuka sesuai dengan realita masalah yang dihadapinya.Aksi Nyata, ada kaitannya dengan identifikasi,  ketika sebuah identifikasi tidak maksimal kita lakukan maka pastinya akan berpengaruh pada aksi nyata yg kita lakukan antara coach dan coachee

  1. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?

Yang dapat membantu CGP dalam melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah adalah Kepala Sekolah, BP, Kesiswaan, Wali Kelas, dan semua Guru.  

CGP akan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam identifikasi permasalahan yang dihadapi CGP tentunya mengeksplorasi data fakta tentang murid yang bermasalah.  Kemudian dari data fakta yang CGP dapatkan menjadi bahan awal untuk lebih mengenal permasalahan yang dihadapi oleh siswa sehingga CGP dapat melakukan langkah TIRTA dengan tepat dan di akhirnya dapat membantu dan menuntun murid dalam menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi 


Sabtu, 16 Oktober 2021

Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

Media Belajar Bersama

Syaiful Rahman_CGP3_Jember2

Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. KHD menyampaiakan bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. 

KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)

Dari pemikiran KHD diatas jelas bahwa tujuan  pendidikan dan pengajaran adalah untuk mencapai keselamatan dan kebahagian  hidup dan kehidupannya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kodrat zaman dan kodrat alam yang ada pada setiap peserta didik. Maka dari itu pentingnya peran seorang guru dalam menuntun dan membimbing arah tumbuh kembanng peserta didik.
Peran guru diatas akan terbangun atas kesadaran diri dari guru itu sendiri mulai dari tergerak, bergerak hingga dapat mengerakkan komunitas wujudkan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas, bermakna dan berpihak kepada peserta didik. Setiap guru khususnya Guru penggerak nantinya memiliki nilai-nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid yang diharapkan mampu menjadi modal menjalankian perannya dalam proses pembelajaran dikelas dan satuan pendidikan.
Dengan demikian harapannya guru dapat menjadi agen perubahana dalam pendidikan dan pengajaran wujudakan well being ekosistem sekolah wujudakan peserta didik dengan profil pelajar pancasila 

Implementasi wujudkan Peserta Didik dengan Profil Pelajar Pancasila :

  1. Penguatan nilai-nilai dan peran Guru Penggerak

  • Munculnya kesadaran diri Guru Penggerak melalui refleksi diri berubah tergerak dan bergerak berubah lebih baik

  • Memahami dan munculkan nilai diri dan merefleksikan pengaruhnya terhadap peran sebagai Guru Penggerak

  1. Merumuskan dan mengembangkan Visi wujudkan peserta didik yang memiliki Profil Pelajar Pancasila

Untuk menjalankan peran sebagai guru penggerak tentunya kita juga harus Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid. Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan khusunya disekolah kita masing-masing untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan peserta didik dengan profil pelajar Pancasila. Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif  dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid.

Budaya positif akan terbangun jika setiap guru dapat memahami dan mengimplementasikan konsep Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan  Teori Kontrol, Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia, Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan, Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia, Lima (5) Posisi Kontrol , Segitiga Restitusi. Dari paparan konsep tersebut diharapan kita sebgai guru penggerak :

  • Memahami miskonsepsi tentang kontrol dan selanjutnya mengadakan perubahan paradigma stimulus-respon menjadi teori kontrol. 

  • Melakukan refleksi atas penerapan praktik disiplin yang dijalankan di sekolahnya.

  • Memahami konsep disiplin positif dihubungkan dengan teori motivasi perilaku manusia, serta konsep motivasi internal dan eksternal

  • Memahami pentingnya memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, yang pada akhirnya akan menciptakan budaya positif

  • Memahami bahwa setiap tindakan murid dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berbeda-beda dan agar menjadi individu yang selamat dan bahagia, kebutuhan dasar harus terpenuhi secara positif

  • Melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya. CGP dapat mengetahui dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Monitor dan Manajer agar dapat menciptakan lingkungan positif, aman, dan nyaman dan dapat menghasilkan murid-murid yang lebih mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab

  • Memahami dan menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi murid merdeka.

Dengan memahami konsep Budaya Positif, merumuskan dan mengimplemntasikan visi guru penggerak serta memiliki nilai-nilai guru penggerak , kita dapat menjalan peran kita sebagai guru penggerak  menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid untuk wujudkan well being ekosistem sekolah sesuai filosofi KHD.menuntun peserta didik mencapai kebahagian dan keselamatan dalam hidup dan kehidupannya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Demikianlah rangkaian koneksi antar materi pada modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4 semoga materi yang kita pelajari dan kita terapkan ini menjadi modal wujudkan well being ekosistem sekolah. Pendidikan yang bermakna, berkualitas, berpusata dan berpihak kepada peserta didik


Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

Media Belajar Bersama


Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

Judul Modul        : Budaya Positif
Nama Peserta    : Syaiful Rahman

Latar Belakang :

  1. Setiap peserta didik memiliki kebutuhan dasar dalam berpikir, bertindak dan mengekspresikan diri dalam proses pembelajaran di sekolah.

  2. Dalam proses pembelajaran untuk wujudkan peserta didik dengan profil pelajar pancasila membutuhkan adanya tumbuh kembang budaya positif 

  3. Tumbuh kembang budaya positif peserta didik diharapkan muncul atas kedasaran diri dan  motivasi internal 

  4. Adanya keberpihakan guru kepada peserta didik dengan memahami Perubahan Paradigma - Stimulus Respon lawan Teori Kontrol, Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan, Kebutuhan dasar peserta didik, 5 peran kontrol guru, segitiga restitusi

Tujuan :

  1. Adanya tumbuh kembang budaya positif pada peserta didik di lingkungan pendidikan

  2. Adanya pemahaman guru dalam menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada peserta didik sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi peserta didik yang merdeka.


Tolok Ukur

  1. Munculnya motivasi diri ( internal ) pada peserta didik

  2. Terpenuhinya kebutuhan dasar peserta didik

  3. Terlaksananya posisi kontrol guru sebagai teman, pemantau dan manajer

  4. Restitusi atas segala pelanggaran atas keyakinan kelas yang disepakati bersama

  5. “Win-Win Solution” dalam setiap tindakan bagi peserta didik, guru dan seluruh warga sekolah

Lini Masa Tindakan yang akan dilakukan :

  1. Bangun kesepakatan dan keyakinan kelas

  2. Tumbuhkan kembangkan motivasi diri internal peserta didik

  3. Penuhi kebutuhan dasar peserta didik

  4. Jalankan posisi kontrol guru sebagai teman, pemantau atau manajer

  5. Lakukan tahapan segitiga restitusi dalam pemecahan masalah

Dukungan yang diperlukan :

  1. Kolaborasi semua warga sekolah khususnya rekan sejawat guru

  2. Komunikasi dan kerjasama bangun keyakinan dan kesepakatan kelas bersama warga sekolah khususnya peserta didik dan guru

  3. Dukungan orang tua dalam wujudkan kesinambungan dan keberlanjutan budaya postif peserta didik disekolah maupun dirumah.

  4. Pemahaman bersama atas konsep Perubahan Paradigma - Stimulus Respon lawan Teori Kontrol, Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan, Kebutuhan dasar peserta didik, 5 peran kontrol guru, segitiga restitusi oleh semua warga sekolah khususnya oleh guru.