Pertama, Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Sebuah dilema etika dikategorikan sebagai paradigma Individu lawan masyarakat (individual vs community) jika dalam dilema etika tersebut ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok/komunitas yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar.
Semisal pada acara eduwisata pemberangkatan dijadwalkan pukul 06.00 wib dari sekolah, Pak Kirman adalah guru biologi yang akan ikut mendampingi eduwisata tersebut. Saat akan berangkat ke sekolah, Pak Kirman dimintai bantuan oleh Pak Ilham (tetangganya) untuk mengantar ke Rumah Sakit karena istrinya akan melahirkan. Pak Kirman mengalami dilema etika.
Paradigma pada kasus ini dikategorikan sebagai paradigma individual vs community karena yang terjadi adalah pertentangan antara kepentingan Pak Kirman sebagai individu dan kepentingan banyak orang dalam acara eduwisata tersebut.
Kedua, Rasa keadilan lawan rasa kasihan ( justice vs mercy )
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan).
Ketiga, Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Paradigma ini terjadi jika dilema etika merupakan pertentangan antara nilai-nilai kebenaran dan kesetiaan. Dilain sisi kita memegang teguh nilai-nilai kebenaran yang disampaikan dan dipertanggungjawabkan ,disisi lain kita dihadapkan pada situasi untuk memilih karena nilai kesetian.
Semisal , Pak Budi adalah rekan kerja Pak Anton di SMA Mojopahit. Suatu ketika Pak Anton belum dapat membayar angsuran koperasi sekolah karena masih dipentingkan untuk membayar UKT anaknya yang sedang kuliah. Kemudian Kepala Sekolah menanyakan data kepada Pak Budi siapa saja yang sudah membayar angsuran koperasi sekolah. Dilema yang dihadapi Pak Budi merupakan paradigma Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty).
Keempat, Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma ini terjadi apabila situasi yang dihadapi karena pertimbangan kebaikan saat ini atau masa yang akan datang. Memilih antara yang sesuatu tampak terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.
Media belajar bersama pendidik,peserta didik, pemerhati pendidikan, pemangku kebijakan dan masyarakat umum
Rabu, 16 Februari 2022
Paradigma Pengambilan Keputusan
Sabtu, 12 Februari 2022
Dilema Etika dan Bujukan Moral
Dalam setiap interaksi sosial di keluarga, masyarakat, komunitas sosial dan dimanapun kita berada tak terkecuali di sekolah mengalami “kesulitan” dalam mengambil sebuah keputusan karena sebuah pertimbangan nilai-nilai kebajikan yang berlaku universal. Sering dalam kenyataannya kita beraktivitas harus memilih diantara dua pilihan atau lebih sebagai bentuk keputusan yang diambil.
Dalam setiap permasalahan yang kita hadapi penting diambil keputusan yang tepat dan bertanggungjawab dengan tidak mengenyampingkan nilai-nilai kebajikan universal dan tidak pula bertentangan dengan peraturan, regulasi yang berlaku.
Mari bersama kita pahami “Apa itu Dilema Etika dan Bujukan Moral ?”
Situasi yang terjadi ketika kita harus memilih diantara dua pilihan yang secara moral dinilai benar tetapi bertentangan dapat kita kategorikan dilema etika. Sedangkan jika dalam situasi tersebut kita harus memilih antara benar atau salah maka hal tersebut dikategorikan sebagai bujukan moral.
Sebagai contoh :
Kasus 1 : Pak Say seorang guru di SMA Penggerak, suatu ketika Pak Say diundang tetangganya dalam acara pernikahan. Acara tersebut dilaksanakan pada saat jam mengajar. Keputusan apa yang harus Pak Say ambil ?
Kasus 2 : Ibu Dewi adalah pembina ekstrakurikuler Paskibra di SMA Penggerak. Pada saat tiba pengajuan seleksi Paskab ( Paskibra Kabupaten ), Toni sebagai senior Paskibra sekolah menghampiri Ibu Dewi dan menyampaikan bahwa jika Ibu Dewi mengikut sertakan adiknya dalam seleksi Paskab tersebut, orang tua Toni akan memberi hadiah sepasang sepatu kepada Ibu Dewi. Situasi apa yang terjadi terhadap Ibu Dewi ?
#Belajar_Berbagi_Beramal
#BangkitGuruku_MajuNegeriku
Jumat, 04 Februari 2022
EKSPLORASI KONSEP COACHING
EKSPLORASI KONSEP COACHING
Mengutip penjelasan Paradigma Pendampingan Coaching Sistem Among - ARTI disebutkan bahwa Among (Tut Wuri Handayani) menjadi salah satu kekuatan dalam pendekatan pendampingan (coaching) bagi guru. Tut Wuri (mengikuti, mendampingi) mempunyai makna mengikuti/mendampingi perkembangan murid dengan penuh (holistik) berdasarkan cinta kasih tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa. Handayani (mempengaruhi) mempunyai makna merangsang, memupuk, membimbing dan memberi teladan agar murid mengembangkan pribadinya melalui disiplin pribadi. Among merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti mengasuh, mengikuti, mendampingi. Guru (Pamong/Pedagog) adalah seorang memiliki cinta kasih dalam membimbing murid sesuai dengan kekuatan kodratnya. Guru sejatinya bebas dari segala ikatan/belenggu untuk menguasai dan memaksa murid. Sistem Among dapat disebut juga sebagai upaya memanusiakan sang anak sebagai seorang manusia (humanisasi).
Pendampingan yang dihayati dan dimaknai secara utuh oleh seorang guru, sejatinya menciptakan ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) dalam proses menuntun kekuatan kodrat anak (murid sebagai coachee). ARTI sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid. Proses menciptakan ARTI dapat dilatih melalui pendekatan coaching sistem among dengan menggunakan metode TIRTA.
Dari uraian singkat diatas sedikit mengeksplorasi pemahaman CGP terkait dengan *Coaching* :
Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali situasi permasalahan) yang dihadapi coachee?
Coach Sebagai guru( pamong) dapat mengeksplorasi permasalahan yang dihadapi coachee dengan langkah TIRTA yang diimplementasikan dengan GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. 4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.
Model tersebut tentunya dapat didukung dengan komunikasi asertif dengan Beberapa tips singkat yang dapat seorang coach lakukan dengan cara
Menyamakan kata kunci
Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.
Menyamakan bahasa tubuh
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya.
Menyelaraskan emosi
Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.
Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi (permasalahan) yang dihadapi coachee? (perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)
Menghormati dan menghargai ungkapan permasalahan yg disampaikan oleh coachee
Memberikan apresiasi kepada murid sebagai mitra belajar dengan bersikap terbuka
Komunikasi interaktif dua arah
Menjadi pendengar yang baik dan simpati
Eksplorasi untuk solusi dengan bertanya
Memberikan Refleksi dan umpan balik
Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA?
Dengan ragam permasalahan yang dihadapi oleh murid dan guru, Praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas dan sekolah.
Tantangan utama Anda dalam melakukan praktek coaching model TIRTA adalah Eksplorasi diri murid melalui identifikasi , bisa kemungkinan murid kurang terbuka sesuai dengan realita masalah yang dihadapinya.Aksi Nyata, ada kaitannya dengan identifikasi, ketika sebuah identifikasi tidak maksimal kita lakukan maka pastinya akan berpengaruh pada aksi nyata yg kita lakukan antara coach dan coachee
Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?
Yang dapat membantu CGP dalam melatih praktek coaching model TIRTA di kelas dan sekolah adalah Kepala Sekolah, BP, Kesiswaan, Wali Kelas, dan semua Guru.
CGP akan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam identifikasi permasalahan yang dihadapi CGP tentunya mengeksplorasi data fakta tentang murid yang bermasalah. Kemudian dari data fakta yang CGP dapatkan menjadi bahan awal untuk lebih mengenal permasalahan yang dihadapi oleh siswa sehingga CGP dapat melakukan langkah TIRTA dengan tepat dan di akhirnya dapat membantu dan menuntun murid dalam menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi
Sabtu, 16 Oktober 2021
Koneksi Antar Materi - Budaya Positif
Syaiful Rahman_CGP3_Jember2
Koneksi Antar Materi - Budaya Positif
Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. KHD menyampaiakan bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)
Dari pemikiran KHD diatas jelas bahwa tujuan pendidikan dan pengajaran adalah untuk mencapai keselamatan dan kebahagian hidup dan kehidupannya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kodrat zaman dan kodrat alam yang ada pada setiap peserta didik. Maka dari itu pentingnya peran seorang guru dalam menuntun dan membimbing arah tumbuh kembanng peserta didik.
Peran guru diatas akan terbangun atas kesadaran diri dari guru itu sendiri mulai dari tergerak, bergerak hingga dapat mengerakkan komunitas wujudkan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas, bermakna dan berpihak kepada peserta didik. Setiap guru khususnya Guru penggerak nantinya memiliki nilai-nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid yang diharapkan mampu menjadi modal menjalankian perannya dalam proses pembelajaran dikelas dan satuan pendidikan.
Dengan demikian harapannya guru dapat menjadi agen perubahana dalam pendidikan dan pengajaran wujudakan well being ekosistem sekolah wujudakan peserta didik dengan profil pelajar pancasila
Implementasi wujudkan Peserta Didik dengan Profil Pelajar Pancasila :
Penguatan nilai-nilai dan peran Guru Penggerak
Munculnya kesadaran diri Guru Penggerak melalui refleksi diri berubah tergerak dan bergerak berubah lebih baik
Memahami dan munculkan nilai diri dan merefleksikan pengaruhnya terhadap peran sebagai Guru Penggerak
Merumuskan dan mengembangkan Visi wujudkan peserta didik yang memiliki Profil Pelajar Pancasila
Untuk menjalankan peran sebagai guru penggerak tentunya kita juga harus Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid. Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan khusunya disekolah kita masing-masing untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan peserta didik dengan profil pelajar Pancasila. Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid.
Budaya positif akan terbangun jika setiap guru dapat memahami dan mengimplementasikan konsep Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan Teori Kontrol, Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia, Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan, Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia, Lima (5) Posisi Kontrol , Segitiga Restitusi. Dari paparan konsep tersebut diharapan kita sebgai guru penggerak :
Memahami miskonsepsi tentang kontrol dan selanjutnya mengadakan perubahan paradigma stimulus-respon menjadi teori kontrol.
Melakukan refleksi atas penerapan praktik disiplin yang dijalankan di sekolahnya.
Memahami konsep disiplin positif dihubungkan dengan teori motivasi perilaku manusia, serta konsep motivasi internal dan eksternal
Memahami pentingnya memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, yang pada akhirnya akan menciptakan budaya positif
Memahami bahwa setiap tindakan murid dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berbeda-beda dan agar menjadi individu yang selamat dan bahagia, kebutuhan dasar harus terpenuhi secara positif
Melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya. CGP dapat mengetahui dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Monitor dan Manajer agar dapat menciptakan lingkungan positif, aman, dan nyaman dan dapat menghasilkan murid-murid yang lebih mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab
Memahami dan menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi murid merdeka.
Dengan memahami konsep Budaya Positif, merumuskan dan mengimplemntasikan visi guru penggerak serta memiliki nilai-nilai guru penggerak , kita dapat menjalan peran kita sebagai guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid untuk wujudkan well being ekosistem sekolah sesuai filosofi KHD.menuntun peserta didik mencapai kebahagian dan keselamatan dalam hidup dan kehidupannya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Demikianlah rangkaian koneksi antar materi pada modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4 semoga materi yang kita pelajari dan kita terapkan ini menjadi modal wujudkan well being ekosistem sekolah. Pendidikan yang bermakna, berkualitas, berpusata dan berpihak kepada peserta didik
Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata
Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata
Judul Modul : Budaya Positif
Nama Peserta : Syaiful Rahman
Latar Belakang :
Setiap peserta didik memiliki kebutuhan dasar dalam berpikir, bertindak dan mengekspresikan diri dalam proses pembelajaran di sekolah.
Dalam proses pembelajaran untuk wujudkan peserta didik dengan profil pelajar pancasila membutuhkan adanya tumbuh kembang budaya positif
Tumbuh kembang budaya positif peserta didik diharapkan muncul atas kedasaran diri dan motivasi internal
Adanya keberpihakan guru kepada peserta didik dengan memahami Perubahan Paradigma - Stimulus Respon lawan Teori Kontrol, Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan, Kebutuhan dasar peserta didik, 5 peran kontrol guru, segitiga restitusi
Tujuan :
Adanya tumbuh kembang budaya positif pada peserta didik di lingkungan pendidikan
Adanya pemahaman guru dalam menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada peserta didik sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi peserta didik yang merdeka.
Tolok Ukur :
Munculnya motivasi diri ( internal ) pada peserta didik
Terpenuhinya kebutuhan dasar peserta didik
Terlaksananya posisi kontrol guru sebagai teman, pemantau dan manajer
Restitusi atas segala pelanggaran atas keyakinan kelas yang disepakati bersama
“Win-Win Solution” dalam setiap tindakan bagi peserta didik, guru dan seluruh warga sekolah
Lini Masa Tindakan yang akan dilakukan :
Bangun kesepakatan dan keyakinan kelas
Tumbuhkan kembangkan motivasi diri internal peserta didik
Penuhi kebutuhan dasar peserta didik
Jalankan posisi kontrol guru sebagai teman, pemantau atau manajer
Lakukan tahapan segitiga restitusi dalam pemecahan masalah
Dukungan yang diperlukan :
Kolaborasi semua warga sekolah khususnya rekan sejawat guru
Komunikasi dan kerjasama bangun keyakinan dan kesepakatan kelas bersama warga sekolah khususnya peserta didik dan guru
Dukungan orang tua dalam wujudkan kesinambungan dan keberlanjutan budaya postif peserta didik disekolah maupun dirumah.
Pemahaman bersama atas konsep Perubahan Paradigma - Stimulus Respon lawan Teori Kontrol, Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan, Kebutuhan dasar peserta didik, 5 peran kontrol guru, segitiga restitusi oleh semua warga sekolah khususnya oleh guru.
Sabtu, 25 September 2021
Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid. Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya kesenjangan antarkelompok sosial ekonomi dalam satuan pendidikan, kesenjangan antara satuan Pendidikan negeri dan swasta di suatu wilayah, kesenjangan antardaerah, atau pun kesenjangan antarkelompok berdasarkan atribut tertentu). Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama satuan pendidikan, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah satuan pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut. Hal ini diharapkan dapat mendorong satuan pendidikan dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.
(Sumber : https://anbk.kemdikbud.go.id/ )
Selasa, 14 September 2021
Filosofi Ki Hajar Dewantara, Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak
Filosofi Ki Hajar Dewantara, Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak
Ki Hajar Dewantara mengartikan bahwa Pendidikan merupakan ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sedangkan pengajaran merupakan Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.
Dari pengertian diatas sudah jelas bahwa kita sebagai pendidik memiliki kewajiban dalam menuntun anak didik kita yang memiliki kodrat alam yang berbeda-beda, memiliki potensi dan karakteristik beragam dengan pengajaran yang menyenangkan dan bermakna dalam hidup dan kehidupannya.
Tersirat secara mendalam bahwasanya dalam pengajaran dan pendidikan ini guru tidak sepatutnyalah memaksakan dan menyamaratakan anak didik kita yang memiliki kodrat alam yang berbeda-beda. Kita sebagai pendidik berkewajiban untuk memberikan pelayanan yang terbaik dengan pola asah asuh asih sehingga nantinya anak didik kita memiliki bekal kecakapan dalam kehidupannya.
Ki Hajar Dewantara sebagai Founding Fathers Pendidikan Nasional telah memberi konsep pendidikan dan pengajaran secara umum sebagaimana telah dituliskan sebelumnya.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara menuntun kepada segenap komponen pendidikan dari pemerintah, pemerhati pendidikan, institusi pendidikan, masyarakat dan khususnya kepada kita sebagai pendidik untuk mempersembahkan sebuah pengajaran dan pendidikan sebagai bentuk proses transformasi, komunikasi dan pembimbingan yang dapat memberi manfaat/ faedah kepada peserta didik dalam mempersiapkan kehidupan nyata bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tentunya kita berharap juga anak didik mencapai kebahagiaan dan keselamatan seutuhnya dalam menjalani kehidupannya.
Kita gambarkan peserta didik sebagai sebuah benih yang perlu tumbuh kembang dengan sempurna sesuai kodratnya alamnya yang memiliki karakteristik berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya. Kita Pendidik perlu mempersiapkan sarana, wadah dan media untuk tumbuh kembang anak didik kita sehingga menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kecakapan hidup dengan bekal kompetensi diri. Selain itu kita pendidik harus mampu merawat, menyirami dan memupuk anak didik kita dengan perlakuan dan tuntunan dengan kasih sayang dengan pola “ASAH,ASUH,ASIH” sehingga anak didik bisa tumbuh kembang menjadi pribadi yang memiliki budi pekerti luhur.
Pemikiran KHD merupakan pondasi dan tuntunan bagi kita sebagai pendidik dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Saat ini dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dibidang pendidikan sangatlah pesat. Dengan mudahnya berselancar bebas mengakses informasi , berkomunikasi tanpa tidak bertemu langsung ( tatap maya), sangat relevan bahwa sebagai pendidik memberikan kesempatan seluasnya-luasnya kepada peserta didik untuk belajar secara merdeka sesuai dengan kodratnya sebagai individu, belajar secara kolaborasi tanpa batas subjek yang harus menjadi teman belajar, belajar tanpa batas sumber yang dapat menjadi rujukan belajarnya, belajar secara bebas kapan waktu untuk belajarnya. Maka dari itu sepatutnya kita sebagai pendidik memberikan kemerdekaan belajar kepada anak didik kita dengan tetap menjaga norma sosial yang berlaku dan menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal.
Dilain sisi kita pendidik perlu menjadi panutan, pembangun semangat dan memberi motivasi dan arahan kepada peserta didik ( Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani ) . Dengan pesat dan bebasnya informasi secara global terbuka diakses melalui internet tidak menutup kemungkinan ada hal/obyek negatif yang menjadi konsumsi anak didik kita. Maka diperlukanlah pendampingan dan arahan sikap serta mengedepankan budi pekerti sesuai dengan budaya warisan para leluhur kita. terwujud peserta didik tangguh memiliki kecakapan hidup dan berakhlakul karimah sesuai yang dicita-citakan oleh pemerintah mewujudkan pelajar dengan profil pelajar pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Ki Hajar Dewantara juga menuntun kepada kita pendidik untuk membawa pengajaran dan pendidikan sebagai media terciptanya peradaban bangsa yang luhur dengan ragam budaya yang kita miliki. Pendidikan hendaknya menjadi media dan sarana perubahan peradaban kearah yang lebih baik sesuai zamannya. Kita pendidik tidak bisa hanya diam stagnan dalam pendidikan, kita pendidik dituntut terus adaptif terhadap perubahan zaman dengan segala pernak-pernik kemajuan pengetahuan dan teknologinya. Kita pendidik harus selalu , mandiri, reflektif, kolaboratif,inovatif,dan berpihak pada murid sebagai bentuk nilai dari seorang guru penggerak.
Mandiri, seorang Guru Penggerak diharapkan senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Melakukan perubahan, untuk memulai sesuatu, untuk mengerjakan sesuatu terkait dengan perubahan apa yang diinginkan untuk terjadi. Berawal dari diri tergerak, bergerak dan menggerakkan komunitas pendidikan. Tergerak dan termotivasi dari diri bergerak berubah lebih baik dan bermanfaat
Reflektif, seorang Guru Penggerak bisa mengevaluasi kembali pengalaman-pengalaman yang telah dilalui, hingga bisa menjadi pembelajaran dan panduan untuk menjalankan perannya di masa mendatang. Evaluasi Diri atas kelemahan dan kelebihan serta terbuka atas kritik, saran dan masukan membangun.
Kolaboratif, Seorang Guru Penggerak senantiasa membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah (orang tua murid dan komunitas terkait) dalam mencapai tujuan pembelajaran. Membangun komunikasi dan kerjasama, menghormati dan menghargai atas ide gagasan dari orang lain.
Inovatif , seorang Guru Penggerak senantiasa memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun permasalahan tertentu. Memberikan solusi atas sebuah permasalahan yang dihadapi.
Berpihak pada murid, seorang Guru Penggerak senantiasa melayani kebutuhan murid sepenuh hati, ikhlas dan riang gembira dalam pembelajaran. Dengan harapan pembelajaran berlangsung dengan aman, nyaman dan menyenangkan.
Kita sebagai guru dalam pembelajaran dan pendidikan melayani anak didik dengan “tuntunan”. Menuntun anak didik mencapai muara akhir kebahagian dan keselamatan dalam hidup dan kehidupannya bermasyarakat, berbangsa dan bernegara seutuhnya.Tentunya dengan segala kecakapan hidup sebagai bekal tercapai pelajar dengan profil pelajar pancasila.
Dari sedikit cuplikan konsep di atas wajib kita sebagai guru tergerak, bergerak dan menggerakkan tentunya diawali dari kita. Kita wajib beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi. Bergerak dinamis menuju peradaban baru dengan tetap tidak meninggalkan budaya luhur bangsa Indonesia, budaya dan kearifan lokal sehingga nantinya akan terwujud karakter luhur pada diri kita.
Tergerak, setelah mendapatkan pemahaman Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, diharapkan diri kita sebagai guru tergerak berubah menjadi lebih baik, ada perubahan pola pikir yang seharusnya menurut Filosofi Ki Hajar Dewantara. Menuntun anak didik dalam pengajaran dan pendidikan, menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna serta berpusat pada anak didik, “menghamba kepada anak didik”.
Bergerak, tetelah pada diri kita tergerak berubah pola pikir , diharapkan ada gerakan berubah pada diri kita sebagai wujud implementasi pemahaman filosofi Ki Hajar Dewantara. Bergerak dinamis dalam pelayanan pengajaran keseharian kepada anak didik dalam satuan pendidikan. Praktik baik dalam menuntun anak didik dan mendorong peningkatan kepemimpinan anak didik di sekolah dan menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah khususnya dimulai dari pembelajaran kelas.
Menggerakkan, Mulai dari diri tergerak kemudian bergerak, langkah selanjutnya kita dapat menggerakkan praktik baik dalam komunitas pendidikan
Dari nilai-nilai diatas tentunya berharap Guru Penggerak akan berperan maksimal dalam mengemban amanah pendidikan menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid.
Berikut peran kita sebagai Guru Penggerak pembelajaran :
1. Menjadi pemimpin pembelajaran
Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong wellbeing ekosistem pendidikan sekolah. Pembelajaran yang berorientasi pada murid, aman, nyaman dan menyenangkan. Pembelajaran yang relevan, bermakna dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menggerakkan Komunitas Praktisi
Berpartisipasi aktif dalam komunitas belajar untuk para rekan guru di sekolah, MGMP, KKG, Organisasi Profesi
3. Menjadi Coach Guru Yang Lain
Guru Penggerak diharapkan juga bisa memantau perkembangan dari rekan guru lain tersebut.
4. Mendorong Kolaborasi Antar Guru
Membuka ruang diskusi positif dan kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan di luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
5. Mewujudkan Kepemimpinan Murid
Membangun sikap kepemimpinan dalam diri siswa agar menjadi siswa yang bertanggung jawab, siswa yang dapat menjalankan perannya sebagai siswa serta siswa yang dapat mengembangkan potensinya sebagai seorang pribadi
Peran sebagai Guru Penggerak diatas tentunya akan bisa berjalan maksimal jika ada dukungan membangun dan kolaborasi dari semua warga sekolah, orang tua peserta didik, masyarakat, lintas sektoral terkait dan tentunya pemangku kepentingan dan kebijakan pendidikan. Kita berharap dengan peran guru penggerak ini pengajaran dan pendidikan yang kita suguhkan akan wujudkan pelajar dengan profil pancasila. Peserta didik mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dalam hidup dan kehidupannya secara utuh dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Semoga kita sebagai Guru Penggerak selalu mendapatkan pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT dalam mengemban amanah mulia sebagai seorang pendidik.
Semoga tulisan ini bermanfaat khususnya bagi saya pribadi sebagai Calon Guru Penggerak. Amin
